www. alumnifatek.forumotion.com


 
IndeksIndeks  PortailPortail  CalendarCalendar  FAQFAQ  PencarianPencarian  PendaftaranPendaftaran  AnggotaAnggota  GroupGroup  Login  KawanuaKawanua  Media Fatek OnlineMedia Fatek Online  KAMPUSKAMPUS  

Share | 
 

 PERAN UNSRAT SBG “AN INSTITUTE OF QUALITY ASSURANCE AND INTELLECTUAL MORAL F

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Go down 
PengirimMessage
Admin
Admin


Jumlah posting : 549
Registration date : 08.01.08

PostSubyek: PERAN UNSRAT SBG “AN INSTITUTE OF QUALITY ASSURANCE AND INTELLECTUAL MORAL F   Mon Feb 11, 2008 7:21 pm

KOMPETENSI, KEBEBASAN DAN AKUNTABILITAS KEILMUAN DALAM
PERAN UNSRAT SEBAGAI “AN INSTITUTE OF QUALITY ASSURANCE AND INTELLECTUAL MORAL FORCE”
Oleh :

Prof.Dr.Ir. Lefrand Winston Sondakh,M.Ec
(Mantan) Rektor Universitas Sam Ratulangi

INTRODUKSI

Seluruh warga Universitas Sam Ratulangi sudah seharusnya memahami dan menyadari dharma, misi dan peran PT sebagai tempat mengabdi dan sumber nafkah. Sejauh ini telah terjadi perubahan yang cepat dalam lingkungan strategis (kelemahannya, kekuatannya, peluang sekaligus ancaman dan tantangan-tantangannya) sekaligus merasakan dan memahami pergeseran dalam paradigma perguruan tinggi.

Dewasa ini universitas telah merubah dunia terutama dalam gagasan-gagasan, ide-ide, yang bersumber dari hasil penyelidikan dan penelitian ilmiah. Manajemen universitas oleh karenanya harus diarahkan pada bagaimana sebuah universitas mampu menghasilkan gagasan, ide dan hasil temuan ilmiah sehingga dapat mengubah ‘the destiny of the people, the society, the government' seperti yang diungkapkan oleh Direktur Program Pasca Sarjana Universitas Clemson, South Carolina, dalam kunjungan kami pada akhir Oktober 2005.

Kemajuan PT di luar negeri terutama di Amerika, Australia dan Eropah merupakan akibat perhatiannya yang difokuskan terutama pada menjadi ‘centre of excellent', yaitu menjadi pusat keunggulan dalam ‘advancement of science'. Para staf di PT tersebut berlomba-lomba berada paling depan dalam ‘frontier of knowledge' melalui riset yang dilakukan yang bukan semata sebagai ‘research for the sake of research' melainkan ‘research' yang memang terutama diarahkan untuk mampu ‘merekonsiliasi konflik antara dunia ideal dan dunia nyata, antara dunia impian dan dunia kenyataan. Para staf berlomba-lomba dalam menghasilkan karya-karya ilmiah yang dipublikasikan melalui ‘scientific journals'. Promosi jabatan akademis semuanya didasarkan pada jumlah karya ilmiah yang dipublikasikan. Dengan cara ini ‘knowledge' yang ditransfer kepada para mahasiswa sudah merupakan ‘scientific knowledge' yang memang relatif sudah memiliki dua kekuatan pokok keilmuan yaitu ‘explanatory' as well as ‘predictive power'.

Gambaran ideal seperti itu memang kontras dengan kenyataan yang kita lihat dan kita alami di Indonesia termasuk di Universitas Sam Ratulangi. Secara jujur haruslah kita akui bahwa memang dari sudut kualitas, produk-produk yang dihasilkan Unsrat relatif masih terkebelakang. Akan tetapi, selaku Rektor, saya mengajak kita sekalian untuk jangan larut dalam keterbelakangan ini. Saya justru mengajak kita sekalian untuk rapatkan barisan, tingkatkan semangat, ‘think smart and work hard' untuk mengejar ketertinggalan tersebut.

KUALITAS PT TERUTAMA DITENTUKAN OLEH KUALITAS PROFESOR DAN DOKTORNYA
Menurut pandangan saya, kekuatan utama yang harus kita mobilisasi dalam mengejar ketinggalan itu ialah para Guru Besar dan Doktor. Karena kelompok inilah yang merupakan ‘the cream of the academic society' yang harus lebih dahulu menjadi contoh bahwa memang mereka berkualitas, bahwa mereka memang menjadi teladan bukan saja dalam perkuliahan dan pembimbingan tetapi juga menonjol hasil karya ilmiahnya yang sesuai dengan kompetensi keilmuannya. Tidak berlebihan saya tekankan di sini bahwa pada akhirnya kualitas sebuah perguruan tinggi terutama ditentukan oleh kualitas para staf pengajarnya.

Kita bersyukur di Unsrat ini, kita memiliki Anda sekalian para Guru Besar dan Doktor yang kami percaya sampai sekarang ini tetap memelihara ‘moral intelektual' dan ‘semangat intelektual', semangat yang mampu mengatasi berbagai kendala yang menghambatnya untuk menghasilkan karya ilmiah. Tentang kendala dana bagi banyak dosen ini, menurut hemat kami wajar dikeluhkan oleh staf umumnya tetapi seyogianya bagi para doktor yang kelulusannya melalui proses riset hendaknya kendala uang tidak sulit diatasi. Kita semua dihadapkan pada kendala itu tetapi kita melihat bahwa sejumlah dari kita berhasil mengatasinya terutama dengan tetap memelihara integritasnya sebagai ilmuwan, semangat dan keberanian yang tinggi untuk mendorong dirinya tampil pada berbagai forum ilmiah nasional dan internasional, upayanya yang tidak kenal lelah membangun ‘academic community trust' melalui karya ilmiahnya yang dipresentasikan pada banyak forum seminar terhadap kompetensinya dan tentu kesetiannya dalam tetap memelihara ‘moral intelektual'.

PARADIGMA BARU PENDIDIKAN TINGGI : HELTS (HIGHER EDUCATION LONG TERM STRATEGY)
Paradigma pendidikan tinggi yang mencoba melihat PT mampu ‘merobah dunia' itulah yang kelihatannya telah menajdi perhatian Ditjen Pendidikan Tinggi di Indonesia dalam menyusun apa yang disebut HELTS (Higher Education Long Term Strategy), yaitu strategi pengembangan pendidikan tinggi di Indonesia yang telah mengelaborasi konsep Tridharma Perguruan Tinggi secara mendetil melalui strategi dan komponen utama : relevansi, kualitas, efisiensi, otonomi, organisasi yang sehat dan good governance.

Adalah tugas tiap manajemen PT untuk konkritisasi Tri Dharma PT dalam dunia nyata melalui ‘rencana strategi' (Renstra), kebijakan dan program yang dirancang secara rapih dan diimplementasikan secara efektif. Renstra yang efektif adalah renstra yang mampu menjawab tantangan masa depan yang mampu memobilisasi kekuatan, mengendalikan kelemahan dalam memanfaatkan peluang dan meredam ancaman. Kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman terus mengalami perobahan seiring dengan perkembangan lingkungan strategis. Konsekuensinya ialah institusi harus terus-menerus berkreasi, berinovasi agar tetap resonsif terhadap perubahan. Kreasi dan inovasi dalam bentuk mencari pola penyesuaiannya, resustruksisasi dan reorientasi adalah hal-hal yang sudah merupakan keniscayaan. Kalau tidak kelembagaan ini akan kehilangan ‘social trust' dan kemudian akan ditinggalkan oleh publik.

INTEGRITAS INTELEKTUAL : HARUS TETAP TERPELIHARA
Adalah hakekat dasar bagi kaum akademisi untuk tetap bersikap kritis di mana dengan sikap kritisnya akan selalu mempertanyakan keabsahan dan kebenaran dari tiap pernyataan apalabi pernyatan publik. Walaupun di dalam dunia nyata yang tidak vakum politik seperti sejarah menunjukkannya, ternyata ada banyak titik atau periode dalam sejarah di mana kaum akademisi kehilangan sikap kritisnya, kehilangan integritasnya.

Di sisi lainnya dari mata uang yang sama menunjukkan bagaimana sekelompok intelektual terperangkap kepada apa yang disebut ‘intellectual arrogancy' atau yang semakin populer dikenal sebagai ‘intellectual moron'. Intellectual morons focus on cognitive elites who embarrass themselves by championing idiotic theories, beliefs and opinions.

Loyalitas terhadap kelembagaan merupakan syarat yang diperlukan agar sebuah lembaga menjadi ‘solid' dan ‘kuat' dan ‘berwibawa' dalam menjalankan misinya dan untuk perkembangannya. Hanya saja loyalitas yang tidak didasarkan pada ‘conscience' merupakan loyalitas yang rapuh karena loyalitas itu hanya mengandung unsur kemunafikan. Loyalitas yang solid adalah yang didasarkan pada berpadunya kepentingan pribadi dengan kepentingan lembaga. Loyalitas yang sejati adalah loyalitas yang manajemen institusinya diselenggarakan secara demokratis yaitu modelnya yang relevan sekarang ini ialah model ‘good university governance' : transparancy, accountability, respect of human rights, participation and efficiency.

PERJUANGAN MELAWAN PEMBOHONGAN PUBLIK
Saya tegaskan kembali pernyataan saya sewaktu menyambut kehadiran Gubernur Sulawesi Utara SH Sarundayang di Kampus Unsrat beberapa waktu yang lalu: "Unsrat sangat menghormati kekuasaan (hasil pilkada langsung) tetapi akan tetap kritis terhadap kekuasaan supaya kekuasaan boleh lestari. PT dan intelektual yang kehilangan daya kritisnya berarti telah kehilangan bukan saja kepedulian tetapi kehilangan integritas. Tentu saja sikap kritis mengandung resiko untuk terposisi tidak disenangi atau dihormati penguasa pada saat sikap kritis itu disampaikan menyimpang dari prinsip dan metode penyelidikan ilmiah dan dengan cara yang tidak sopan dan tidak terpuji."

Pembohongan publik yang dilakukan oleh para pejabat seringkali pada sebuah pandangan : seperti yang dilakukan oleh sekelompok "intellectual morons" yaitu ‘pejabat boleh berdusta demi kepentingan publik yang lebih besar". Politisi boleh saja berdusta tetapi tidak boleh berbuat salah. Intelektual tidak boleh berdusta tetapi boleh salah. Intelektual yang berperilaku sebagai ‘politisi' tidak layak menyandang predikat intelektual.

Pejabat yang melakukan pembohongan publik memang sudah menyesatkan tetapi lebih menyesatkan lagi ialah kaum intelektual yang berlagak intelektual tetapi sebetulnya mereka adalah ‘pseudo intellectual' yaitu intelektual yang memberikan ide yang kelihatannya ‘good idea' tetapi sebetulnya ‘bad ideas' yang sudah meracuni politik dan budaya.

Di sekitar kita dengan mudah kita menyaksikan prinsip ‘presumption of innocence', ‘vulgarisme', dan malahan sebagiannya bukan saja tidak etis tetapi sadistis, ‘trial by the press' oleh sejumlah media massa. Peningkatan sepertinya ditampilkan oleh media lokal.

Ironisnya, sepertinya masyarakat Sulawesi Utara termasuk kaum akademisi, sudah menganggap hal-hal tersebut bersifat ‘biasa'. Sikap seperti ini dilihat sebagai suatu sikap yang tidak lagi punya kepedulian dan kepekaan terhadap degradasi peradaban yang dengannya kepekaan terhadap uregensi memperbaiki ‘social dan political lifestyle' yang maju, beradab, dan santun. Sikap seperti ini mengundang pertanyaan dan kritikan publik tentang di manakah realisasi dan konkritisasi dharma dan perguruan tinggi tersebut di atas? Ketidakpedulian ini sepertinya tidak sejalan dengan dambaan ideal terhadap perguruan tinggi dengan misi ‘tridharma perguruan tinggi' (pendidikan, penelitian dan pengabdian pada masyarakat).

IMPLIKASI DAN REKOMENDASI

Uraian di atas mengisyaratkan kepada kita warga Unsrat tentang semakin kompleksnya permasalah integritas di sekitar kita. Merupakan panggilan kita bersama untuk peduli terhadap permasalah itu dan membangun kemitraan dan kerjasama dalam mengatasinya. Unsrat memiliki ‘moral responsibility' untuk memainkan perannya baik secara umum melalui ‘Tridharma Pendidikan Tinggi" tetapi terutama sekarang ini memainkan perannya sebagai ‘an institute of intellectual moral force' dan ‘quality assurance'.

Dalam kaitan dengan ini kami merasa perlu merekomendasikan pentingnya kita sekalian sebagai andalan utama kemajuan mutu akademi dengan terfokus pada ‘kompetensi keilmuan' yang ditekuni serta pada pada kualitas moral intelektual Unsrat yaitu para Guru Besar dan Doktor untuk semakin menghayati tugas panggilannya sebagai ‘intelektual' yang di samipng terus-menerus dimintakan untuk giat meningkatkan karya ilmiahnya yang ‘accountable' tetapi juga makin mampu tetap memelihara prinsip-prinsip ‘academic freedom' yang dijustifikasi oleh ‘academic accountability', pertama terhadap institusi lantas kemudian terhadap publik. Masing-masing dosen harus mampu menjaga keseimbangan antara ‘academic freedom' dan ‘academic accountability' supaya ‘academic integrity' nya tetap terpelihara dan ‘kepercayaan sosial' sebagai aset utama kelangsungan hidup institusi tetap berlanjut.
Kembali Ke Atas Go down
Lihat profil user http://alumnifatek.forumotion.com
 
PERAN UNSRAT SBG “AN INSTITUTE OF QUALITY ASSURANCE AND INTELLECTUAL MORAL F
Topik sebelumnya Topik selanjutnya Kembali Ke Atas 
Halaman 1 dari 1

Permissions in this forum:Anda tidak dapat menjawab topik
www. alumnifatek.forumotion.com :: KATAGORI BERITA :: Unsrat-
Navigasi: