www. alumnifatek.forumotion.com


 
IndeksIndeks  PortailPortail  CalendarCalendar  FAQFAQ  PencarianPencarian  PendaftaranPendaftaran  AnggotaAnggota  GroupGroup  Login  KawanuaKawanua  Media Fatek OnlineMedia Fatek Online  KAMPUSKAMPUS  

Share | 
 

 Bangun Pabrik Semen di Sulut

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Go down 
PengirimMessage
anwarp



Jumlah posting : 122
Location : Jakarta
Registration date : 16.01.08

PostSubyek: Bangun Pabrik Semen di Sulut   Sun Feb 17, 2008 6:58 pm

Bangun Pabrik Semen di Sulut
Bolmong Banyak Bahan Baku, Bisa Untuk 150 Tahun
Undang Investor, Manfaatkan Pasar Uang

MANADO POST
Pembangunan pabrik semen dengan bahan baku dari Sulut sudah saatnya dilakukan. Ini patut dilakukan sebagai antisipasi kelangkaan yang eskalasinya terus meningkat tiap tahun.
Menurut pengamat ekonomi Unsrat, Stanly Alexander, sudah saatnya Sulut memiliki pabrik semen mengingat kebutuhan makin membesar. Baik di Sulut maupun di daerah tetangga. "Dengan potensi sumber daya alam sebagai bahan baku semen di Bolmong dan Minsel, kehadiran sebuah pabrik semen sudah harus dilakukan. Sudah pula saatnya lokasi produsen pabrik lebih dekat dengan konsumen,’’ kata Alexander semalam.
Branch Manager PT Dhanawibawa AC cabang Manado ini menambahkan, ketergantungan Sulut ke Makasar atau ke Kalimantan sudah saatnya dipikirkan. "Jangan lagi tergantung ke daerah lain, karena secara geografis daerah ini daerah kepulauan. Kalau masih menggantungkan ke Makasar, masih sulit mendapatkan semen murah dan berlimpah,’’ ingatnya.
Disinggung soal investor, menurut Stanly, sudah ada sebuah perusahaan lokal di Sulut yang bersedia menginves di Lolak, Bolmong. Namun, ada sedikit masalah non teknis sehingga perusahaan itu belum action. ‘’Kebetulan saya tahu perusahaan itu calon investor yang sudah melakukan studi kelayakan,’’ katanya, sembari menyebut perusahaan dimaksud.
Stanly menyarankan pemerintah harus bergegas merayu investor. Kalau investor lama belum bersedia, kata Stanly, ada baiknya melakukan terobosan mengundang pabrik semen besar seperti Tiga Roda atau Bosowa dan Tonasa, untuk berinvestasi di Sulut. Baik investasi penuh maupun joint venture dengan perusahaan lain.
"Kalau kendala pendanaan bisa mengundang perbankan atau melalui pasar moda," paparnya, sembari menyatakan optimis kandungan bahan baku semen di Bolmong bisa menarik investor. Besarnya kandungan bahan baku semen di Bolmong dibenarkan Kepala Dinas Pertambangan dan Energi (Distamben) Bolmong Ir Moh Yudha Rantung. ‘’Daerah ini memiliki potensi batu semen yang besar. Lihat saja batu semen di Inobonto hingga Lolak dan Sang Tombolang. Wilayah ini menyimpan batu semen yang pengelolaan bisa bertahan 150 tahun,’’ tuturnya.
Dia juga membenarkan adanya investor lokal Sulut yang mengantongi ijin izin pertambangan dari Gubernur Sulut untuk periode 1998-2008 ini. Padahal, katanya, sudah ada dua investor asing yang menyatakan berminat dengan lokasi dimaksud. "Kalau persoalan dengan perusahaan itu sudah tuntas, pasti investor akan masuk," timpal Bupati Bolmong Ny Hj Marlina Moha-Siahaan melalui Kabag Humas Drs Hi Yahya Fasa.
Perusahaan itu sendiri belum berhasil dihubungi untuk dimintai konfirmasi tentang kendala-kendala yang dihadapi di lapangan sampai konsesi lokasi tersebut belum digarap optimal.
Sementara itu, terobosan yang dilakukan pemerintah Sulut dengan menata pola distribusi sampai mengawasi dari silo PT Semen Tonasa di Bitung tidak kunjung membuahkan hasil.
MINTA REVISI
Sementara itu, kelangkaan di semua daerah tetap meradang menyusul harga semen berkisar Rp50-55 ribu di tingkat pengecer di Manado, jauh dari kesepakatan harga eceran tertinggi (HET) antara distributor dan Pemprov Sulut sebesar Rp 45.675 per sak.
‘’Kami masih sulit jual dengan harga yang ditetapkan pemerintah dan distributor, karena pasokan belum stabil,stok masih belum cukup Semen Bosowa dan Tiga Roda belum lancar masuk ke Sulut,’’ kata Ci Lany, pengecer semen di Manado.
Berdasarkan kesepakatan 5 distributor dari 3 merk semen di Sulut, harga jual dari pabrik semen di Bitung ke distributor sebesar Rp 41 ribu per sak. Kemudian dari distributor ke pengecer,setelah ditambah biaya transportasi Manado-Bitung Rp 2500 per sak, menjadi Rp 43.500 per sak. Untuk selanjutnya dari pengecer ke konsumen ditetapkan berdasarkan jarak. Untuk harga semen di kota dan kabupaten di Minahasa, Tomohon dan Minahasa Selatan, tidak termasuk Bitung, Minut (Bolmong dan Sangihe jalur sendiri) didasarkan pada harga eceran tertinggi kota Manado setelah ditambah biaya transportasi.
Sekedar contoh, harga di Bitung ditetapkan dari harga distributor Rp 41 ribu tambah margin dan biaya transportasi Rp 1000 menjadi Rp 44.050 per sak. Namun dari Manado ke wilayah Minahasa induk, Minsel dan Tomohon patokannya diambil dari harga eceran di Manado sebesar Rp 45.675 per sak. Sekedar contoh harga eceran ke konsumen di Kawangkoan dan Langowan sebesar Rp 49.675 per sak, didasarkan pada patokan harga eceran Manado Rp 45.675 tambah biaya transportasi Rp 4000 per sak.
Menurut Kepala Dinas Perindag Sulut Gemmy Kawatu kesepakatan ini berlaku di semua titik penjualan. Sehingga tidak ada alasan kalau pengecer menjual di atas harga patokan. Pemprov Sulut telah mengambil langkah dengan menyurati pemerintah kabupaten dan kota supaya mengawasi penjualan semen dengan harga patokan.
Dinas Perindag Sulut sendiri telah melakukan langkah-langkah lanjutan untuk menangani persoalan ini. ‘’Torang panggil ulang lima distributor semen Tonasa untuk minta keterangan penyebab kelangkaan dan tingginya harga,’’ kata Kasubdin Perdagangan Dalam Negeri Janny Rembet, usai rapat bersama distributor di Kantor Dinas Perindag Sulut, kemarin sore.
Malah, kata Janny distributor semen Tiga Roda dan Bosowa sudah memberi sinyal untuk mengubah kesepakatan harga eceran tertinggi antara distributor dan pemerintah Sulut. ‘’Distributor semen Bosowa minta kesepakatan ditinjau ulang,’’ katanya.
Menurut Janny, penelusuran yang dilakukan selama beberapa hari baru sebatas dugaan terjadinya penimbunan semen dan permainan harga antara pedagang semen. Kendati demikian mereka mencium ada ketimpangan distribusi dari silo ke pengecer.
Ada distributor, PT SPT, yang mendapat alokasi semen hampir 50 persen dari stok Tonasa yang masuk setiap minggu. Sisanya dibagi rata kepada 4 pengecer yaitu PT Eva, Wahana, Hasjrat. Kata Janny kemungkinan salah satu penyebab distribusi tidak merata, karena penumpukan stok di satu distributor.
‘’Salah satu titik masalah banyak pengecer yang mengaku tidak dapat jatah dari distributor. Padahal distributor setiap minggu mendapatkan alokasi rata-rata 5000 ton,’’ terangnya.(ham/ald/ily)

_________________
+ Thinking
Kembali Ke Atas Go down
Lihat profil user
 
Bangun Pabrik Semen di Sulut
Topik sebelumnya Topik selanjutnya Kembali Ke Atas 
Halaman 1 dari 1
 Similar topics
-
» kecelakaan pabrik
» Kode rahasia hp
» Tips Mengatasi Kejenuhan dengan Pasangan
» Cara Membiasakan Diri Bangun Pagi
» Miliarder Bangun Rumah Termahal

Permissions in this forum:Anda tidak dapat menjawab topik
www. alumnifatek.forumotion.com :: KATAGORI BERITA :: Manado & Sulut-
Navigasi: