www. alumnifatek.forumotion.com


 
IndeksIndeks  PortailPortail  CalendarCalendar  FAQFAQ  PencarianPencarian  PendaftaranPendaftaran  AnggotaAnggota  GroupGroup  Login  KawanuaKawanua  Media Fatek OnlineMedia Fatek Online  KAMPUSKAMPUS  

Share | 
 

 Masih Ada Indonesia di Singapore Airshow

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Go down 
PengirimMessage
anwarp

avatar

Jumlah posting : 122
Location : Jakarta
Registration date : 16.01.08

PostSubyek: Masih Ada Indonesia di Singapore Airshow   Tue Feb 26, 2008 5:00 pm

Masih Ada Indonesia di Singapore Airshow

Pengantar


Industri penerbangan Indonesia masih mampu berbicara di ajang internasional. Meskipun selama beberapa tahun terakhir PT Dirgantara Indonesia (DI) lebih dikenal banyak masalah, seperti utang perusahaan dan PHK massal yang diikuti dengan protes berkepanjangan, namun perusahaan itu masih mampu memproduksi pesawat terbang untuk konsumsi dalam negeri, bahkan untuk ekspor. Pada Changi Exhibition Centre (CEC) di Singapura, selama enam hari (19-24/2), PT DI dengan bangga memajang pesawat Maritime Patrol Aircraft di ajang Singapore Airshow. Dalam bidang perawatan pesawat pun Indonesia ternyata tidak kalah. Garuda Maintenance Aero-Asia (GMF-AA), yang ternyata memiliki konsumen di 25 negara, selain Indonesia, tampil dengan percaya diri untuk menjaring konsumen baru. Wartawan SP, Yuliantino Situmorang, menggambarkannya dalam tulisan berikut.

Pesawat tempur F-16D dipamerkan di arena Singapore Airshow di Changi Exhibition Centre, Singapura, Selasa (18/2).

Pesawat baling-baling bermoncong hitam gemuk itu, teronggok sepi di sisi paling barat Changi Exhibition Centre (CEC), Singapura, yang menjadi lokasi ajang Singapore Airshow 2008. Sepanjang Selasa (19/2), atau hari pertama pameran dirgantara yang berlangsung hingga 24 Februari itu dibuka, tidak terlihat wajah-wajah bule pengunjung, menyaksikan pesawat itu. Hanya beberapa orang yang datang, bersalaman dengan petugas penunggu, sambil akrab tertawa.

Itulah suasana area pajang pesawat CN235-220 MPA (Maritime Patrol Aircraft) di ajang Singapore Airshow. Sebelumnya, ada sejumlah petinggi militer Singapura ikut melongok, masuk ke badan pesawat.

Tetapi memang, kebanyakan pengunjung adalah orang Indonesia. Dan tampaknya, sangat kenal dengan beberapa petugas dan pejabat PT Dirgantara Indonesia (PT DI), yang menunggu di dalam pesawat.

Pesawat buatan PT DI itu, ikut meramaikan Singapore Airshow. Dia tampil menunggu calon pembeli bersama puluhan pesawat komersial dan pesawat tempur terbaru, canggih, dan hebat, dari sejumlah negara di area CEC seluas 30 hektare.

Sepinya pengunjung mungkin juga karena lokasi areal pajang CN235-220 MPA, yang terlalu jauh dari pintu masuk CEC. Atau mungkin pengunjung sudah dipuaskan dengan pesawat-pesawat canggih di pintu depan, seperti pesawat tempur F-16D dan pesawat pengebom B-1B buatan AS, atau pesawat komersial raksasa Airbus A-380, dan helikopter twin rotor CH47SD.

CN235 berada nun jauh di sana, bersama pesawat-pesawat kecil, seperti Global Express XRS, helikopter Bell 47, Eurocopter EC145, dan lima helikopter buatan Eurocopter lainnya. Kehadiran CN235-220 MPA memang menarik. Sebab, di tengah kondisi perusahaan yang selalu dirundung masalah, Indonesia masih bisa menampilkan produknya.

Ya, masih ada Indonesia di Singapore Airshow. Indonesia masih tampil di tengah gempita kehebatan produk dirgantara negara-negara maju.

"Kami ingin menunjukkan ke dunia bahwa PT DI masih eksis. Saya bangga ada di sini," ujar Koordinator Proyek CN235-220 MPA PT DI, Sukamto kepada SP, yang menemuinya di sela-sela ajang Singapore Airshow, Selasa (19/2). Hari itu Sukamto bertugas menunggu pesawat dan menjelaskan keandalan CN235 kepada pengunjung.

Boleh diakui, masyarakat dunia melihat industri dirgantara Indonesia sudah terpuruk. Bahkan, masyarakat di Tanah Air juga beranggapan serupa.

Maklum, beberapa tahun ini, PT DI selalu dirundung masalah, ribuan tenaga kerja di PHK. Demonstrasi terus-terusan terjadi. Sementara perusahaan terancam ditutup karena menanggung utang begitu besar dan sulitnya modal kerja.

"Tetapi kami masih ada, walaupun tinggal segelintir orang, kami masih berproduksi. Kami tidak ingin dipandang sebelah mata, kita ingin bangkit lagi," ucap Sukamto optimistis.

Buktinya, tutur dia, produk CN235-220 MA, yang dijual seharga US$ 12,7 juta atau sekitar Rp 114 miliar itu, sudah dilego ke sejumlah negara, seperti Pakistan, Malaysia, dan Korea Selatan. Di negara-negara itu, CN235-220 sudah digunakan untuk mengangkut pasukan patroli, dan sebagian lagi digunakan sebagai pesawat VIP.

Bahkan, beberapa bulan lalu, PT DI sudah memproduksi enam pesawat sejenis untuk Turki. Enam pesawat itu dirakit di sebuah pabrik di Turki.

Menurut dia, pesanan terus datang. April mendatang, PT DI akan mengirim satu pesawat NC 212 untuk TNI AU dan enam pesawat pemantau NC-212 untuk TNI AL. Belum lagi Organisasi Islam Dunia (OKI), yang berniat membantu pendanaan bagi PT DI untuk pembuatan dan pengembangan pesawat tipe N-250, dan PT Merpati Nusantara Airlines yang akan memesan enam unit NC-212.

"Produk-produk kita ini akan terus dikembangkan. Untuk CN235-220 akan dikembangkan dengan sistem informasi tercanggih, sehingga seluruh rekaman data yang diperoleh dari pesawat bisa langsung diolah, dianalisis secara terintegrasi, dan dikirim ke darat," kata dia.

Pesawat itu juga sudah dilengkapi satelit komunikasi, sehingga ideal untuk digunakan bagi sejumlah instansi, seperti BIN dan departemen terkait, misalnya Departemen Kehutanan, Departemen Kelautan dan Perikanan.

Soalnya, pesawat itu bisa memantau aksi pencurian ikan, penjarahan hutan, pasir laut dan tambang. Dan itu akan semakin efektif jika pemerintah sudah membangun Fix Ground Station (Stasiun di Darat/FGS) untuk menerima data-data mutakhir mengenai rekaman kondisi di darat yang dipantau dari udara.

Rekaman itu, sudah lengkap diolah dari dalam pesawat. Diharapkan, pada akhir 2008 FGS itu sudah dibangun di Makassar.

"Kita masih sanggup, apalagi soal membuat komponen. Apa pun spare part pesawat, PT DI bisa membuatnya, tinggal kemauan pemerintah dan dukungan masyarakat saja yang bisa membuat PT DI bangkit kembali," katanya.

Pesawat patroli maritim CN-235 buatan PT Dirgantara Indonesia dipamerkan di Changi Exhibition Centre, Singapura, Selasa (18/2).

Berbagai jenis pesawat tempur.

GMF-AA

Kehadiran Indonesia di Singapore Airlines juga ditunjukkan Garuda Maintenance Aero-Asia (GMF-AA). Beda dengan PT DI, kalau GMF-AA, memilih area pamer di dalam hanggar raksasa nan dingin, bersama ratusan perusahaan dari 42 negara yang ikut pameran.

Tidak ada pesawat yang dipajang, karena memang GMF-AA adalah perusahaan bengkel perawatan pesawat, yang notabene milik Garuda Indonesia. Beda dengan PT DI, PT GMF-AA sudah begitu sering mengikuti setiap ajang Airshow.

Dua tahun lalu, mereka juga hadir di Singapore Airshow, tahun berikutnya mereka juga mengikuti pameran serupa di Dubai Airshow. Bisa dibilang, nama GMF-AA sudah tidak asing di dunia penerbangan.

"Puluhan maskapai penerbangan dari 25 negara, sudah menjadi konsumen kami. Itu menyebar di lima benua," ujar General Manager PT GMF-AA, Sandy Yuliawan.

Beberapa maskapai penerbangan itu, seperti Kalita Air (AS), lalu enam perusahaan dari Inggris, Aergo Capital, Avient, DAS Air Cargo, My Travel, MK Airlines, Thomas Cook Airlines. Lalu, dari negara Eropa lainnya, seperti KLM, Netherland Royal Airforce dan Pron Air. Juga maskapai penerbangan dari Timur Tengah, seperti Qatar Airways, Oman Air, Air Aquarius, Libyan Arab Airlines, dan Kabo Air.

"Kabo Air pertama kali merawat pesawatnya pada 1992 dan menjadi konsumen pertama GMF. Sebelumnya, konsumen GMF hanya Garuda Indonesia," tutur Sandy.

Ketika itu, GMF dibangun karena Garuda Indonesia akan menjadi maskapai penerbangan besar. Ternyata, dengan berjalannya waktu dan kondisi tidak bagus, armada Garuda Indonesia tidak terlalu banyak.

Akhirnya, kata dia, GMF menawarkan diri ke maskapai-maskapai asing. "Soalnya, kemampuan kita sudah sesuai standar internasional," imbuhnya.

Dijelaskan, banyak perusahaan tertarik dengan GMF-AA karena biaya yang ditawarkan lebih hemat ketimbang bengkel perawatan pesawat serupa di luar negeri. Seorang tenaga ahli GMF mendapat bayaran US$ 35 sampai US$ 40 per jam, sementara di luar negeri sebesar US$ 70 hingga US$ 110 per jam.

"Kita harus bisa bersaing. Kalau tidak, kita ditinggalkan," ucapnya. *

_________________
+ Thinking
Kembali Ke Atas Go down
Lihat profil user
 
Masih Ada Indonesia di Singapore Airshow
Topik sebelumnya Topik selanjutnya Kembali Ke Atas 
Halaman 1 dari 1
 Similar topics
-
» Indonesia akan Punya 500 Roket
» Menurut Kalian siapasih musisi indonesia yg jadi legenda sampe saat ini ??????
» Nasib Fiksi Ilmiah di Indonesia
» Inilah 25 Hotel Paling Favorit di Indonesia
» urutan orang terkaya indonesia

Permissions in this forum:Anda tidak dapat menjawab topik
www. alumnifatek.forumotion.com :: KATAGORI BERITA :: Internasional-
Navigasi: