www. alumnifatek.forumotion.com


 
IndeksIndeks  PortailPortail  CalendarCalendar  FAQFAQ  PencarianPencarian  PendaftaranPendaftaran  AnggotaAnggota  GroupGroup  Login  KawanuaKawanua  Media Fatek OnlineMedia Fatek Online  KAMPUSKAMPUS  

Share | 
 

 Kuliah Tak Kunjung Selesai, Terjun dari Lantai 13

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Go down 
PengirimMessage
Admin
Admin


Jumlah posting : 549
Registration date : 08.01.08

PostSubyek: Kuliah Tak Kunjung Selesai, Terjun dari Lantai 13   Tue Dec 16, 2008 4:02 pm

Kuliah Tak Kunjung Selesai, Terjun dari Lantai 13

** missed drop char **Kuliah yang tak kunjung selesai di Universitas Persada Indonesia YAI, Salemba, mendorong Hendrawan Winata (25) kabur dari rumah. Setelah delapan hari tanpa ada kabar, Hendrawan ditemukan tewas di sisi barat Gedung B Universitas Katolik Atma Jaya, Jakarta.

Kematiannya mengagetkan mahasiswa perguruan tinggi itu. Semua mulai bertanya-tanya. Korban dari fakultas apa? Jurusan apa? Semester berapa?

Detak jantungnya berhenti dengan suara hantaman tubuh yang membentur sebidang tanah di salah satu sudut areal kampus. Hanya petugas pencatat taksi di Plasa Semanggi dan beberapa petugas keamanan kampus yang samar-samar mendengar suara seperti benda yang jatuh ke tanah.

"Dia jatuh sekitar pukul 11.30 saat beberapa kelas sedang mengadakan ujian semesteran. Banyak yang tidak tahu dan berpikir yang jatuh hanya barang," kata dosen Fakultas Hukum Atma Jaya, Daniel Yusmic Foekh.

Sekretariat universitas pun segera menelusuri data mahasiswa untuk memastikan siapa gerangan yang diduga jatuh dari lantai atas itu. Seluruh data di komputer tidak sesuai dengan identitas yang ada di SIM C dan KTP almarhum. Tidak ada yang bernama Hendrawan Winata dari belasan ribu mahasiswa Unika Atma Jaya.

Selama beberapa jam tempat kejadian perkara terus didatangi ratusan mahasiswa. Beberapa dosen memantau dan ikut menyelidiki siapa sebenarnya korban. Sekitar pukul 15.00 WIB pengelola kampus mulai tenang.

Ada informasi dari Kepolisian Sektor (Polsek) Setia Budi yang menyebutkan, Hendrawan merupakan warga Jalan Arimbi, Kelapa Gading, Jakarta dan tercatat sebagai mahasiswa Universitas Persada Indonesia YAI di Salemba.

"Kami sangat terbuka, khususnya untuk kepentingan rohani beberapa warga luar, misalnya dari Plasa Semanggi dan sekitarnya. Jadi siapa pun yang mau berdoa biasanya langsung ke lantai 13, di sana ada kapel," kata Didimus Antonius Jone, Humas Atma Jaya.

Lantai 13 memang terbuka untuk kegiatan rohani umum. Namun, kematian yang tidak biasa ini menyisakan pertanyaan karena bagian luar lantai enam hingga lantai teratas Gedung B Atma Jaya tertutup. "Tidak ada akses langsung ke luar gedung," tuturnya.

Kepala Polsek Setia Budi Komaris Polisi Ajie Indra mengatakan, polisi akan mengusut terus kasus ini untuk memastikan penyebab kematian.

"Orang tuanya sudah memberitahukan kalau dia sudah delapan hari tidak balik ke rumah. Terakhir waktu dia ke rumah, dia dimarahi oleh orang tuanya karena hingga kini kuliahnya di YAI belum rampung juga," tuturnya.

Ibu korban, Tasyana (46) remuk redam menyaksikan jasad putranya, Hendrawan Winata terbujur kaku di kamar mayat RSCM, Jakarta.

"Saya gagal, saya gagal," jeritnya berulang di antara isak tangis saat ditemui di RSCM, Senin (15/12) malam.

Penyesalan sang ibu terbersit dari pengakuan paman korban, Hartono. Konon Tasyana memang sering memarahi anaknya itu karena dianggap selalu menyulitkan keluarga. Meskipun sudah kuliah selama dia tahun, dia tak kunjung lulus.

"Hendra bahkan sempat mengaku sudah lulus, tetapi kebohongannya terungkap setelah dicek ke kampus ternyata belum lulus. Karena itu korban sering dimarahi. Tapi da tidak terlibat minuman keras atau pergaulan yang aneh-aneh. Makanya kami kaget dengan kejadian ini" ucap sang paman.

Tasyana menjelaskan, kedatangan Hendra ke Atmajaya hanya untuk mengambil formulir pendaftaran bagi adiknya yang akan lulus SMA. Dia mengemudikan mobil sendiri menuju ke kampus Atma Jaya.

Menanggapi kejadian tersebut, guru besar psikologi dari Universitas Indonesia Guritno Ningsih Santoso mengatakan, kemungkinan seseorang bunuh diri karena depresi berat sangat besar. Sebab, lingkungan di sekitarnya tidak memberi rasa aman, bahkan menuntut terlalu banyak. "Angka bunuh diri saat ini cenderung meningkat, bukan hanya di Indonesia tetapi di negara lain, seperti Jepang," tuturnya.

Seseorang bisa menempuh jalan pintas semacam itu, menurut dia, jika ada masalah yang tidak mampu diselesaikan, sedangkan tuntutan dari lingkungan besar serta tidak bersahabat. Akibatnya, pelaku merasa tidak ada harapan untuk masa depannya.

Kondisi tersebut diperparah bila pelaku memiliki kepribadian yang tertutup dan sulit menjalin komunikasi dengan orang-orang terdekatnya, sehingga semua bebannya dipendam sendiri. "Mencurahkan perasaan kepada orang terdekat itu penting untuk meringankan beban. Orang-orang terdekat, terutama keluarga peka terhadap masing-masing kepribadian anggotanya dengan menjalin komunikasi yang lebih terbuka," katanya. [EMS/RBW/U-5/B-15]

Suara Pembaruan - 16 Des 2008
Kembali Ke Atas Go down
Lihat profil user http://alumnifatek.forumotion.com
 
Kuliah Tak Kunjung Selesai, Terjun dari Lantai 13
Topik sebelumnya Topik selanjutnya Kembali Ke Atas 
Halaman 1 dari 1
 Similar topics
-
» Terjun payung
» kedewasaan seseorang tidak di ukur dari usia
» 3 Hal Yang Diinginkan Suami dari Istrinya
» Kepribadian dilihat dari Payudara
» Risiko Wanita yang punya Suami lebih dari Satu

Permissions in this forum:Anda tidak dapat menjawab topik
www. alumnifatek.forumotion.com :: Halaman Utama :: Tampilan Pada Portal-
Navigasi: