www. alumnifatek.forumotion.com


 
IndeksIndeks  PortailPortail  CalendarCalendar  FAQFAQ  PencarianPencarian  PendaftaranPendaftaran  AnggotaAnggota  GroupGroup  Login  KawanuaKawanua  Media Fatek OnlineMedia Fatek Online  KAMPUSKAMPUS  

Share | 
 

 Analisa SWOT (Strengths, Weaknesses, Opportunities and Threats)

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Go down 
PengirimMessage
Admin
Admin
avatar

Jumlah posting : 549
Registration date : 08.01.08

PostSubyek: Analisa SWOT (Strengths, Weaknesses, Opportunities and Threats)   Sun Feb 01, 2009 3:16 pm

Analisa SWOT (Strengths, Weaknesses, Opportunities and Threats)




Analisa SWOT (Strengths, Weaknesses, Opportunities and Threats) sudah biasa digunakan oleh perusahaan-perusahan besar agar kinerja bisnis tetap terjaga untuk melipatgandakan profit. Sebenarnya, analisa ini bisa juga digunakan untuk bisnis berskala kecil. Berikut langkah-langkah analisa SWOT yang telah disederhanakan:

1. Weakness (Kelemahan)

Apa saja kelemahan bisnis anda? Bagaimana cara mengatasi kelemahan bisnis anda? Apakah anda kekurangan modal? Kurang tenaga ahli? Apakah anda terus menerus mengalami kerugian?

2. Strength (Kekuatan)

Analisa kekuatan bisnis anda secara mendalam. Apa keunggulan bisnis anda? Aset apa yang dimiliki? Unikkah penawaran bisnis anda dibandingkan kompetitor lainnya?

3. Opportunities (Peluang)

Cermati segala peluang atau kesempatan untuk kesuksesan bisnis anda. Apakah ada segmen pasar yang terlewati, pasar yang sama sekali belum tersentuh oleh kompetitor anda? Bagaimana pola perilaku konsumen anda? Adakah kompetitor lemah dengan konsumen yang bisa anda ambil alih?

4. Threats (Ancaman)

Apa saja ancaman terhadap bisnis anda? Kompetisi semakin ketat? Apakah kondisi keuangan bisnis anda cukup memadai untuk mengatasi hambatan yang akan muncul nantinya?
Karena wirausahawan dituntut untuk dapat bekerja sekitar 17 jam sehari, maka tentu saja kondisi fisiknya harus bisa mendukung persyaratan tak tertulis tersebut. Artinya, ia harus sehat dan kuat, baik jasmani maupun rohani. Sering kita dengar semboyan yang berbunyi : Mens sana in corpore sano yang artinya kira-kira : “Didalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang sehat pula”. Namun, seorang pakar pernah mengatakan bahwa semboyan itu sering ditentang orang, karena kenyataannya belum tentu atau tidak selalu orang yang sehat fisiknya, sehat pula jiwanya. Banyak kejadian memperlihatkan, bagaimana orang-orang yang sehat kuat ternyata berlaku kejam, zalim dan sewenang-wenang. Itu membuktikan bahwa orang sehat tubuh bisa saja tidak sehat jiwanya. Oleh karenanya, para pakar keolahragaan memodifikasi semboyan itu menjadi : Utini, mens sana in corpore sano, sehingga artinya menjadi : “Semoga, dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang sehat pula”.

Didunia wiraswasta, pengusaha harus pula sehat dan kuat, baik jiwa maupun fisiknya. Untuk membina fisik, harus diperhatikan beberapa faktor antara lain, pola kokua (makan, minum dan rokok, berasal dari bahasa Hawaii ), pola istirahat, serta olahraga. Ketiga pola ini perlu diperhatikan dan ditata kembali, agar bisa menciptakan suatu kebiasaan hidup yang baik, sesuai dengan kebutuhan seorang wiraswatawan ideal.
Kita perlu menyadari bahwa tidak ada yang lebih berharga didunia ini dari pada kesehatan. Itu sebabnya, pada bab I kita sudah menekankan terlebih dahulu bahwasanya bukan uanglah satu-satunya sasaran pengusaha, akan tetapi suatu paket kebahagian yang didalamnya sudah termasuk aspek kesehatan dan juga aspek keuangan. Kesemuanya itu terpadu dalam satu pola kesatuan yang disebut “Roda Penghidupan”.
Tidak dapat dipungkiri bahwa kehidupan pengusaha, terutama pengusaha kecil yang baru mengawali karirnya kejenjang yang lebih tinggi, selalu diliputi tekanan kerja yang cukup berat. Target-target penjualan, batas-batas waktu penyerahan barang dan penyelesaian proyek, kesinambungan produksi dan sebagainya, sering menyebabkan pengusaha lengah akan pembinaan fisiknya. Terlebih lagi pengusaha muda usia, karena kondisi tubuhnya masih prima, kecenderungan mengabaikan kesehatan menjadi kejadian yang biasa.
Sebab-sebab yang umum menjadi pencetus penyakit tubuh, antara lain terlambat makan atau makan tidak teratur, lupa waktu dan kerja terlalu berat, merokok berlebihan, kurang minum dan kurang bergerak. Hal itu sering ditambah lagi dengan kehidupan malam yang “over dosis”, dalam rangka menjamu relasi atau memang kesenangan sendiri.
Betapapun hendaknya kita sadar, bahwa kesehatan lebih berharga dari segalanya. Alasan paling klasik dari semua usahawan yang mengabaikan pola-pola makan, minum, istirahat dan olahraga yang sehat adalah, tidak sempat, tidak ada waktu atau terlanjur lupa. Kambing hitamnya mudah untuk ditunjuk, yaitu menumpuknya tugas dan pekerjaan. Benarkah demikian ?
Mengkambing hitamkan volume kerja, sebenarnya tidak etis dan cenderung membohongi diri
sendiri. Yang terjadi sebenarnya hanyalah masalah prioritas. Sesuatu yang terasa tidak sempat, tidak sukup waktu atau terlupa untuk dikerjakan, menunjukkan bahwa objek yang dibicarakan tidak cukup mendapatkan prioritas. Dengan kesadaran ini, sudah sepantasnyalah daftar priotitas itu diperiksa kembali, dan tempatkan olahraga pada salah satu tingkat prioritas teratas. Sebelum, peristiwa fatal yang sama-sama tidak kita inginkan terlanjur datang menimpa.
Hakekat olahraga adalah menggerakkan anggota tubuh dengan intensitas dan frekuensi sedemikian, sehingga peredaran darah didalam tubuh menjadi lancar. Lancarnya peredaran darah akan membantu lancarnya distribusi makanan dan oksigen keseluruh bagian badan, dengan begitu, fisik akan sehat dan terasa segar. Dengan kondisi sehat-segar seperti itulah hendaknya para usahawan bekerja, agar supaya produktivitas bisa dicapai secara maksimal.
Yang perlu diperhatikan adalah bahwa olahraga bagi wiraswastawan bertujuan agar tubuhnya tetap segar dan bisa tetap bekerja dengan baik dan konsisten. Walaupun olahraga itu penting, tapi intensitas latihan harus dijaga agar jangan sampai menyebabkan kelelahan yang berlebihan (over training). Karena, lelah yang berlebihan bukannya membawa kesegaran fisik, malah sebaliknya yang bersangkutan akan menjadi “teler” bahkan bisa mengakibatkan sakit. Bagaimana mungkin kerja kalau mengalami hal seperti itu ?
Kebutuhan berolahraga dengan intensitas yang benar sudah diketahui manusia sejak jaman dahulu. Dr. Hua To (190-265M), seorang dokter terkenal dinegeri Cina mengungkapkan : “Tubuh manusia memerlukan latihan, namun tidak boleh melebih takaran. Olahraga dapat membersihkan udara kotor dari dalam sistem pernafasan, melancarkan peredaran darah serta menangkis serangan penyakit. Seperti pintu rumah yang selalu dipergunakan tidak akan menjadi rapuh, begitu juga badan menusia perlu digerakkan agar menjadi awet muda..!”
Pola makan harus diperhatikan. Kurangi mengkonsumsi lemak dan bahan-bahan yang mengandung kolesterol dan gula. Seimbangkan komposisi daging dan sayuran, perhatikan konsep 4 sehat 5 sempurna. Perbanyak minum air putih segar tanpa es, dan sedapat mungkin jauhi kebiasaan minum kopi, minuman keras serta merokok. Serangan jantung dan stroke akhir-akhir ini banyak terjadi dan menjadi pembunuh utama bagi kalangan eksekutif. Hal yang terakhir ini sudah menjadi perhatian para pimpinan perusahaan dan instansi, dan berbagai usaha mengkampanyekan “perang” terhadap penyakit jantung sudah dilakukan.

Keseimbangan alam didunia ini, ditandai dengan adanya dualisme. Ada hitam ada putih, ada gelap ada terang, ada baik ada jahat dan seterusnya. Keseimbangan dalam 6 sisi roda penghidupan, juga terjadi dengan efek saling isi-mengisi antara sektor karir dengan sektor keluarga, sektor fisik dengan sektor mental serta sektor sosial dengan sektor spiritual. Dalam hidup sehari-hari kita sangat familiar dengan kehidupan jasmani, yang berinteraksi dengan kehidupan rohani. Kehidupan jasmani membentuk sisi sosial, dan kehidupan rohani itu tidak lain adalah sisi spiritual dari kehidupan manusia. Keseimbangan kehidupan jasmani dengan kehidupan rohani amat penting, bagaikan pentingnya keseimbangan makan dan minum bagi semua mahluk.
Wiraswastawan, harus menjaga dan memperhatikan kehidupan spritualnya. Karena faktor ini merupakan alat penyeimbang terhadap kehidupan jasmani, yang sudah pasti akan banyak diuji dengan berbagai godaan maupun goncangan. Tidak benar pendapat yang mengatakan bahwa bagi pengusaha, terutama pengusaha muda, urusan spiritual adalah urusan nanti, kalau sudah tua, atau kalau sudah kaya. Banyak kejadian membuktikan, bahwa terutama pada saat-saat kritis, tidak ada sisi lain dari kehidupan ini yang dapat membantu kecuali sisi spiritual atau agama. Mike Tyson, juara dunia, adalah contohnya. Pada saat dirinya begitu terjepit, terlecehkan dan kehilangan pegangan hidup, ia akhirnya menemukan ketenangan jiwa melalui penemuan spiritual didalam penjara.
Bidang spiritual merupakan bidang yang sangat abstrak, halus dan sulit dimengerti begitu saja. Sehingga untuk bisa mendalaminya, diperlukan pengkajian dan pengalaman selama hidup. Itu sebabnya, masalah spiritual tidak bisa ditunda sampai usia senja. Seorang pengusaha muslim, harus dapat mengatur waktunya untuk tetap bersembahyang 5 waktu, yang kristiani juga harus tetap dapat dan sempat beribadah ke gereja, begitu juga mereka dari agama-agama lainnya. Mereka yang beriman, akan terjaga dan selamat pada saat-saat kejatuhan, dan tetap bisa mengendalikan diri saat berada pada puncak kejayaan.
Perjalanan hidup yang ideal, akan memunculkan kearifan dan kesempurnaan jiwa, pada saat usia manusia mencapai periode akhir dari kehidupannya. Dengan catatan bahwa yang bersangkutan memang membina sisi kehidupan spiritualnya dari sejak muda.

Motivasi hidup manusia berjalan dan berubah seiring dengan proses tahapan-tahapan yang bersesuaian dengan perkembangan tingkat hidupnya. Dilain pihak, perkembangan tingkat hidup biasanya juga akan berlangsung secara alami selaras dengan usia atau kedewasaan seseorang. Ada lima tahapan yang lazimnya membentuk jalan kehidupan manusia normal, yaitu :

a). Kebutuhan fisik, atau kebutuhan biologis. Ini merupakan kebutuhan yang paling dasar dan primitif dari seorang manusia, meliputi kebutuhan akan sandang, pangan, papan, kendaraan (SPPK), udara, serta kebutuhan seksual.
b). Kebutuhan Sosial. Keinginan untuk diterima oleh lingkungannya, kebutuhan untuk menjalin persahabatan dan kasih sayang. Termasuk dalam hal ini keinginan untuk memiliki rumah yang lebih besar, mobil yang baik, pakaian yang lebih bagus serta lebih banyak uang.
c). Kebutuhan ego (self-esteem). Disini kebutuhan sudah lebih meningkat, yaitu keinginan untuk diakui sebagai seseorang yang mempunyai peran penting dalam kehidupan sekaligus memiliki banyak kontribusi terhadap masyarakat.
d). Pengembangan Diri. Pada taraf ini, seseorang akan terus berusaha mengembangkan diri pribadi lebih jauh, lebih menggali aktualisasi prestasi, mencari dan mengatasi tantangan demi tantangan serta lebih kreatif baik dalam kehidupan profesional maupun personal. Tujuannya untuk mengetahui sampai batas manakah akhir dari segala jerih payahnya bisa dicapai.
e). Spiritual. Akhirnya, pada satu batas, manusia biasanya akan kembali pada kodrat alami sebagai makhluk, dan berusaha untuk dapat lebih mengenal dan lebih dekat dengan Sang Pencipta.
Kalau mengacu kepada pola di atas, maka tahapan hidup, karir dan motivasi sesorang dapat diterangkan urut-urutannya seperti berikut :
1). Seseorang yang baru lulus sekolah, lepas dari orang tua dan terjun kemasyarakat, kemungkinan besar segala tindak tanduknya didasari atas motivasi kebutuhan fisik, yaitu untuk pertama kalinya memenuhi kebutuhan primer secara mandiri. Pada saat itu ia mungkin berusia sekitar 20-an tahun dan sedang dalam proses memulai usaha atau mencari pekerjaan.
2). Setelah mulai usaha atau memperoleh pekerjaan, dalam waktu singkat, sekitar 1 sampai 5 tahun, motivasinya akan bergeser kearah kebutuhan sosial. Tentunya dengan catatan, bahwa ditempat pekerjaannya, semua kebutuhan dasar yang diperlukan sudah bisa terpenuhi.
3). Kebutuhan fisik dan sosial sangat mendasari kehidupan normal seorang manusia. Prosesnya bisa berjalan bertahun-tahun secara berkesinambungan. Sampai disatu taraf, pada waktu yang ber-sangkutan mulai mendapatkan kemajuan atau promosi yang cukup berarti, maka motivasi hidupnya akan condong berubah menjadi motivasi ego. Saat ini mungkin ia berusia 30-an tahun atau lebih.
4). Mulai usia 40-an tahun, posisi seseorang biasanya sudah tergolong mapan. Bisa jadi ia sudah menjadi pengusaha muda yang berhasil, atau menjabat sebagai General Manager, Direktur, atau minimal seorang staf senior. Biasanya mereka sudah membakukan jati-diri, sehingga otomatis yang menjadi pendorong segala sepak terjangnya adalah motivasi pengembangan diri. Itu juga sebabnya timbul pepatah yang mengatakan : “Life begins at fourty.” (hidup mulai dari usia 40). Periode ini akan berlangsung dalam waktu relatif panjang, bisa mencapai usia 50 - 60 tahunan, tergantung dari pembawaan dan latar belakang masing-masing.
5). Seperti telah disinggung dibagian atas, pada akhirnya seseorang akan menginsyafi arti sebenarnya dari hidup ini, dan mencari kedekatan lebih sempurna dengan Sang Pencipta.

Kesimpulan yang kita dapatkan adalah, bahwa sisi spiritual pun perlu dibina sejak dini. Dengan begitu landasan kita berwiraswasta akan menjadi kuat, antara lain : sukses ataupun jatuh, kita tetap ada dalam pemikiran positif, sukses berarti perjuangan berhasil menemui sasarannya, sedangkan bila jatuh, kejatuhan kita adalah sebagai pahlawan atau syuhada yang menggantungkan cita-citanya setinggi langit untuk kepentingan banyak orang.
Aspek Spiritual Bagi Usaha Anda
Keseimbangan alam didunia ini, ditandai dengan adanya dualisme. Ada hitam ada putih, ada gelap ada terang, ada baik ada jahat dan seterusnya. Keseimbangan dalam 6 sisi roda penghidupan, juga terjadi dengan efek saling isi-mengisi antara sektor karir dengan sektor keluarga, sektor fisik dengan sektor mental serta sektor sosial dengan sektor spiritual. Dalam hidup sehari-hari kita sangat familiar dengan kehidupan jasmani, yang berinteraksi dengan kehidupan rohani. Kehidupan jasmani membentuk sisi sosial, dan kehidupan rohani itu tidak lain adalah sisi spiritual dari kehidupan manusia. Keseimbangan kehidupan jasmani dengan kehidupan rohani amat penting, bagaikan pentingnya keseimbangan makan dan minum bagi semua mahluk.
Wiraswastawan, harus menjaga dan memperhatikan kehidupan spritualnya. Karena faktor ini merupakan alat penyeimbang terhadap kehidupan jasmani, yang sudah pasti akan banyak diuji dengan berbagai godaan maupun goncangan. Tidak benar pendapat yang mengatakan bahwa bagi pengusaha, terutama pengusaha muda, urusan spiritual adalah urusan nanti, kalau sudah tua, atau kalau sudah kaya. Banyak kejadian membuktikan, bahwa terutama pada saat-saat kritis, tidak ada sisi lain dari kehidupan ini yang dapat membantu kecuali sisi spiritual atau agama. Mike Tyson, juara dunia, adalah contohnya. Pada saat dirinya begitu terjepit, terlecehkan dan kehilangan pegangan hidup, ia akhirnya menemukan ketenangan jiwa melalui penemuan spiritual didalam penjara.
Bidang spiritual merupakan bidang yang sangat abstrak, halus dan sulit dimengerti begitu saja. Sehingga untuk bisa mendalaminya, diperlukan pengkajian dan pengalaman selama hidup. Itu sebabnya, masalah spiritual tidak bisa ditunda sampai usia senja. Seorang pengusaha muslim, harus dapat mengatur waktunya untuk tetap bersembahyang 5 waktu, yang kristiani juga harus tetap dapat dan sempat beribadah ke gereja, begitu juga mereka dari agama-agama lainnya. Mereka yang beriman, akan terjaga dan selamat pada saat-saat kejatuhan, dan tetap bisa mengendalikan diri saat berada pada puncak kejayaan.
Perjalanan hidup yang ideal, akan memunculkan kearifan dan kesempurnaan jiwa, pada saat usia manusia mencapai periode akhir dari kehidupannya. Dengan catatan bahwa yang bersangkutan memang membina sisi kehidupan spiritualnya dari sejak muda.
Kembali Ke Atas Go down
Lihat profil user http://alumnifatek.forumotion.com
 
Analisa SWOT (Strengths, Weaknesses, Opportunities and Threats)
Topik sebelumnya Topik selanjutnya Kembali Ke Atas 
Halaman 1 dari 1

Permissions in this forum:Anda tidak dapat menjawab topik
www. alumnifatek.forumotion.com :: Katagory Utama :: Mental & Spritual-
Navigasi: