www. alumnifatek.forumotion.com


 
IndeksIndeks  PortailPortail  CalendarCalendar  FAQFAQ  PencarianPencarian  PendaftaranPendaftaran  AnggotaAnggota  GroupGroup  Login  KawanuaKawanua  Media Fatek OnlineMedia Fatek Online  KAMPUSKAMPUS  

Share | 
 

 Sigit Agus Himawan, Insinyur Kelautan yang Menjadi Bos Sampah

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Go down 
PengirimMessage
Admin
Admin


Jumlah posting : 549
Registration date : 08.01.08

PostSubyek: Sigit Agus Himawan, Insinyur Kelautan yang Menjadi Bos Sampah   Mon Feb 02, 2009 10:51 am

Sigit Agus Himawan, Insinyur Kelautan yang Menjadi Bos Sampah


Jawa Pos [ Minggu, 01 Februari 2009 ]

Kenali Tabiat Sampah, Jadi Pemulung Satu Tahun


Tidak banyak orang yang rela berlama-lama berdekatan dengan sampah. Namun, Sigit Agus Himawan justru bersahabat dengannya. Insinyur Kelautan itu rela melepas jabatan empuk demi barang buangan itu. Hasilnya tak mengecewakan; tiga pabrik kini jadi miliknya

JANESTI PRIYANDINI, Surabaya

Rasa lelah tidak tergambar di wajah Sigit Agus Himawan. Padahal, pria berkumis kelahiran Banyuwangi itu baru saja tiba dari Jakarta. Ditemani secangkir teh, dia mulai menceritakan kisahnya bergelut dan akhirnya menggantungkan mata pencaharian pada sampah. Dilihat dari latar belakang pendidikan, bapak tiga anak itu bukan dari disiplin ilmu yang terkait dengan sampah. Dia lulusan Teknik Kelautan Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) Surabaya.

Seperti kebanyakan, setelah lulus kuliah pada 1990, Sigit pun mencari pekerjaan yang sesuai dengan ilmu yang dipelajari. Setelah melamar sana-sini, akhirnya dia diterima sebagai karyawan di sebuah perusahaan kontraktor di Jakarta. Profesi yang digeluti mengantarkannya untuk mengunjungi negara lain

Saat melihat home industry di Tiongkok, timbul keinginan Sigit untuk berbinis. ''Tiba-tiba saya merasa bosan jadi pegawai,'' tambahnya. Dengan memiliki usaha sendiri, tentu prospek ke depan lebih terjamin. Begitu pikirnya. Padahal, posisinya ketika itu sudah cukup mapan. Gaji yang diterima juga cukup besar, Rp 6,5 juta per bulan. Jumlah cukup besar di awal 1990-an

Tapi, tekadnya tidak bisa diubah. Dia ingin berbisnis sendiri. Maka, dia keluar dari perusahaan itu dan memilih tinggal di Pacet, Mojokerto. Sebuah perubahan drastis memang. Sejak itu praktis dia tidak memiliki pekerjaan tetap. Bahkan, dia harus menjual karbol (pembersih lantai) buatannya untuk sekadar mencari uang untuk makan keluarga. Dia juga melirik kotoran sapi sebagai objek penelitian. Di sekitar rumahnya banyak kotoran sapi. ''Dari lulur mandi, karbol, sampai kotoran saya jual. Gimana lagi, wong sudah tidak punya pekerjaan,'' kisahnya.

Sigit lalu memanfaatkan kotoran tersebut sebagai pupuk. Dari situ dia mulai terpikir untuk melakukan hal serupa terhadap sampah. Kalau sampah dijadikan penyubur tanah, prospeknya pasti bagus, begitu pikirnya. Apalagi, tidak banyak orang yang mau bermain di lahan itu. ''Nyium baunya aja orang sudah malas,'' ucapnya lantas tertawa.

Bisnis pupuk mengantarkan Sigit pada pemahaman terhadap ilmu pertanian. Sigit mengamati, hasil panen yang berupa sayuran atau buah yang tak terpakai akan dibuang sebagai sampah. ''Nah, setelah jadi sampah tidak ada yang memanfaatkan. Jadinya sampah tambah menumpuk, kualitas lahan semakin menurun,'' jelasnya.

Sigit melihat ada missing link. Sebenarnya sampah jenis organis tersebut bisa dimanfaatkan untuk memperbaiki kualitas lahan itu. Jaringan yang hilang itulah yang ingin disambungnya supaya menjadi sebuah siklus yang saling berkesinambungan. Demi keinginannya itu, pada 2000 suami Siswayati tersebut nekat pergi ke Bekasi. Yang dia tuju adalah Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Bantar Gebang. Alasannya pergi ke tempat itu adalah untuk mempelajari karakter sampah, manajemen sampah, sampai kultur masyarakat pemulung di sana. ''Kalau mau menjadi sahabat sampah, kita harus bicara dulu dengannya. Pendekatan,'' ucapnya filosofis.

''Pendekatan'' yang dipilih Sigit adalah ikut menjadi pasukan ninja. Menjadi pemulung bersama penduduk lain. Selama satu tahun dia melakoni pendekatan itu. Dia pun tinggal di sekitar TPA, membangun rumah seadanya dari papan. ''Pokoknya bisa untuk tidur,'' ucapnya. Cukup ekstrem memang.

Sigit sendiri menyebut dirinya orang yang berani. ''Berani miskin,'' tegasnya. Gara-gara aksi nekatnya itu, dia sering disebut wong gendeng oleh saudaranya. Setiap hari, mulai pukul enam pagi dia sudah berada di TPA. Tak ketinggalan topi ninja melekat di kepalanya. Seharian penuh dia berada di tempat itu bersama pemulung lain.

Jika teman-temannya mengambil sampah plastik, dia justru mengambil sampah organik. Sampah itulah yang tidak diambil oleh pemulung lain. ''Penghasilan mereka kan dari sampah plastik itu,'' tutur bungsu dari sembilan bersaudara tersebut.

Dari Bantar Gebang, Sigit mendapatkan sebuah ide untuk berinovasi. Dia ingin membuat kompos berbentuk granular supaya tidak tertiup angin dan tidak terbawa air. Sebab, jika berbentuk serbuk, kemungkinan tersebut akan terjadi.

Berbekal ide dan modal lima juta rupiah dia pindah ke Bandung. Di sana dia mulai melakukan penelitian tahap selanjutnya. Dia menyewa mesin granulasi dari sebuah pabrik kapur pertanian. ''Perhitungan sewanya berdasarkan jumlah sampah yang saya pakai. Per kilo bayar berapa, gitu,'' kata juara pertama lomba form riset dan teknologi industri se-Indonesia ini.

Pupuk buatannya itu kemudian diujikan. Uji tanam itu, selain dilakukan di Bandung, juga dilakukan di Mojokerto, sambil pulang kampung. Begitu terus sampai akhirnya dia mendapatkan formulasi yang pas. Setelah mencoba beberapa kali, ternyata tanggapannya bagus. Mereka tidak perlu menggunakan pupuk dalam jumlah banyak, namun hasil panen meningkat. Lama-lama pupuknya tersebut mulai dikenal. Oleh seorang teman dia diberi modal untuk menyewa pabrik di Purwakarta. Itu adalah pabrik pertamanya. ''Dulu pabrik teh tapi sudah tidak terpakai, saya sewa,'' lanjutnya.

Usaha Sigit terus mekar. Di bawah bendera PT Komposindo Granular Arendi, kompos ciptaannya telah diproduksi di tiga pabrik. Tepatnya di Karawang, Sragen, dan Jember. Karyawannya mencapai 150 orang tiap pabrik. ''Saya menjabat direktur teknik sekaligus pemegang saham di situ (PT Komposindo Granular Arendi, Red) ,'' ungkapnya.

Dalam mengelola pabriknya tersebut, Sigit bekerja sama dengan pemda setempat. Kerja sama itu tentu saja masih berkaitan dengan sampah. Bahan baku utama untuk membuat kompos adalah sampah yang dia ambil dari tempat pembuangan akhir (TPA) di tiga kota itu. ''Tapi, mereka (pemerintah, Red) tidak keluar duit. Semua investasi dari kami,'' jelasnya.

Pada 2005 dia mendapat izin pemasaran dari Departemen Pertanian. Daerah pasarnya pun menjadi semakin luas. Setelah merasa teknologi buatannya sudah oke, akhirnya Sigit mulai mencari investor. Hasilnya, sekarang sudah berdiri tiga pabrik. Ada 42 distributor se-Indonesia yang membantu pemasarannya. Pupuk kompos granulasi organik yang dinamai Rabog itu dipasarkan hingga ke Riau. Bulan depan dia berencana ekspansi di Bondowoso. Target lain, dia akan membangun pabrik di Mataram. ''Targetnya sih tahun ini,'' katanya.

Sampai sekarang kadang dia masih merasa tidak percaya dengan apa yang telah dilakukannya. ''Jujur saja, saya jadi insinyur karena dipaksa orang tua. Cita-cita saya sebenarnya ingin jadi pemusik,'' ungkapnya merendah.
Kembali Ke Atas Go down
Lihat profil user http://alumnifatek.forumotion.com
 
Sigit Agus Himawan, Insinyur Kelautan yang Menjadi Bos Sampah
Topik sebelumnya Topik selanjutnya Kembali Ke Atas 
Halaman 1 dari 1
 Similar topics
-
» Memilih Pembalut yang Baik
» Teman Masa Kecil yang Terlupakan
» Memperbaiki Hubungan Yang Rusak
» 5 Komponen Mesin yang Sering Bermasalah
» Yang selalu dirahasiakan oleh Perokok

Permissions in this forum:Anda tidak dapat menjawab topik
www. alumnifatek.forumotion.com :: Halaman Utama :: Tampilan Pada Portal-
Navigasi: