www. alumnifatek.forumotion.com


 
IndeksIndeks  PortailPortail  CalendarCalendar  FAQFAQ  PencarianPencarian  PendaftaranPendaftaran  AnggotaAnggota  GroupGroup  Login  KawanuaKawanua  Media Fatek OnlineMedia Fatek Online  KAMPUSKAMPUS  

Share | 
 

  Mencetak Insinyur yang Wirausaha

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Go down 
PengirimMessage
Admin
Admin


Jumlah posting : 549
Registration date : 08.01.08

PostSubyek: Mencetak Insinyur yang Wirausaha   Wed Jul 21, 2010 11:28 am



Mencetak Insinyur yang Wirausaha






Kompas,Rabu 20Juli 2020 - Ninok Laksono


"Penguasaan iptek dan akses ke sumber iptek bukan lagi faktor kompetitif karena semua pelaku industri memiliki faktor tersebut. Ke berhasilan dalam persaingan, pada akhirnya, lebih ditentukan oleh kapasitas inovasi."
(Prof Akhmaloka, Rektor ITB,


Wisuda Sarjana ITB, 16 Juli 2010)

Di satu sisi, bangsa Indonesia semakin dituntut untuk mampu dan berkiprah dalam inovasi. Di sisi lain ada laporan bahwa jurrilah wirausaha (entrepreneur) yang ada di negeri ini relatif masih kecil dibanding jumlah penduduk, diperkirakan sekitar 0,2 persen atau kurang lebih 400.000 orang.

Kalau wirausaha adalah orang yang meme nuhi panggilan hidup untuk terjun dalam bidang kewirausahaan, dan itu berarti juga orang yang berani menciptakan lapangan kerja untuk dirinya sendiri, maka inilah yang sesungguhnya amat diperluka.n oleh Indo nesia Selain berpotensi memberikan kon tribusi pada perekonomian apabila usahanya sukses, wirausaha juga tidak semata meng andalkan ketersediaan lapangan kerja, yang kini terus diburu oleh jutaan pencari kerja, yang banyak di antaranya bergelar sarjana. Sebalilmya, is pencipta lapangan kerja.

Dalam kaitan sarjana teknik inilah kita ingat pada bulan Juli ini diperingati 90 tahun dimulainya pendidikan tinggi teknik di In donesia. Seperti dituturkan kembali Rektor ITB Prof Akhmaloka dalam acara peringatan di ITB (12/7), tonggak dimulainya pendidikan tinggi teknik di Nusantara adalah ketika Technische Hogeschool (TH) diresmikan oleh Gubemur Jenderal Graaf van Limburg Stirum pada 3 Juli 1920 di tengah persawahan yang membentang antara Cikapundung dan Jalan Dago. Kini TH telah menjelma menjadi Institut Teknologi Bandung (ITB).

Baik dicatat di sini, Belanda yang ikut merasakan dampak Perang Dunia I (1914-1918) kemudian memandang perlu mendirikan lembaga pendidikan teknik se perti TH karena pihaknya juga membutuh kan tenaga teknik untuk tujuan pemulihan ekonomi. (Meskipun kemudian hams di terima bahwa pemuda di wilayah Hindia-Be landa yang kemudian menuntut ilmu di TH seperti Bung Karno dan Djuanda malah me lihat penguasaan ilmu teknik sehagai satu bekal penting untuk menuju kemandirian dan kemerdekaan.)

ITB, yang semula hanya punya satu ju rusan pendidikan dan satu fakultas, kini telah memiliki 12 fakultas dan sekolah, dengan 38'program studi sarjana, 47 *Program studi magister, dan 27 program studi doktor dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan, teknologi, seni, bisnis, dan ilmu-ilmu kemanusiaan.

Dari uraian Rektor ITB itu kita dapat menyimak bahwa dari sejak awal, lembaga pendidikan teknik TH/ITB mengandung di mensi ekonomi/bisnis. Inilah yang berikut nya ingin diperluas dalam kolom ini seiring dengan perkembangan zaman.

Kewirausahaan
Jika kini isu kewirausahaan bergaung kuat, sebenarnya coal ini sudah mewarnai per jalanan ITB. Tidak saja hal itu merupakan jawaban khas ITB ketika di awal Orde Baru berlangsu.ng perdebatan mengenai strategi pembangunan ekonomi yang bisa memper cepat pembangunan bangsa melalui pema juan dan pemanfaatan iptek, tetapi hal itu juga wujud cara pandang visioner.

Memang apa yang muncul di lingkungan ITB tidak orisinal karena apa yang pernah terjadi di Universitas Stanford di AS di awal abad ke-20 menjadi rujukannya. Dari uraian Prof Akhmaloka, dan sebelumnya mendengar langsung dari mendiang Prof Iskandar Ali sjahbana yang merupakan generasi awal techno-pmneur di Indonesia, kita dapat men catat bahwa di lingkungan ITB berdiri per usahaan yang mengikutsertakan mahasiswa. Salah satunya adalah PT Radio Frequency Communication.

Selain mazhab Iskandar, yang—seingat pe nulis—tidak sepenuhnya bisa diterima ka langan sivitas akademika, karena ada juga kalangan puritan, ada juga mazhab Filino Ilarahap. Di sini yang dikembangkan adalah pemanfaatan teknologi tepat guna (appro priate technology), disertai keyakinan bahwa teknologi yang bisa diterima clan menyebar luas adalah yang "sesuai" dengan kondisi dan kebutuhan masyarakat.
Di luar keduanya, ada mazhab BJ Habibie, yang memberikan penafsiran baru atas tek nologi tepat guna. Dalam pelbagai kesem patan dan di sela-sela perialanan meninjau atau meresmikan proyek, Prof Habibie yang dicitrakan lebih berorientasi pada teknologi tinggi kepada penulis menjelaskan bahwa definisi teknologi tepat guna bukanlah tek nologi rendah (lawan hi-tech) seperti yang
banyak digunakan misalnya dalam pertanian tradisional, tetapi teknologi apa pun—jadi termasuk teknologi tinggi—yang bisa mem bantu menyelesaikan masalah-masalah pem bangunan.

Tantangan masa kini
Dari suasana mengenang 90 tahun ber dirinya TH, Rektor ITB punya forum lain untuk menjelaskan masalah aktual, yakni wisuda sarjana, 16 Juli 2010. Pada acara ini Prof Akhmaloka mengangkat topik inovasi, yang kini menjadi salah satu fokus peme rintahan Presiden Susilo Bambang Yudho yono, dibuktikan antara lain dengan kelu arnya Peraturan Presiden Nomor 32 Tahun 2010 mengenai pendirian Komite Inovasi Nasional.

Disadari, perekonomian Indonesia seka rang ini, meskipun berhasil lobos dari terpaan krisis global 2008-2009, sulit untuk meng hasilkan pertumbuhan 8 persen atau lebih tinggi, yang amat diharapkan untuk pen ciptaan lapangan kerja dan meningkatkan kesejahteraan dan kejayaan bangsa.
Indonesia sudah terlalu lama gagal me manfaatkan peluang menjadi tuan rumah di negeri sendiri.
Pasarnya dijadikan sasaran empuk industri otomotif asing, pembelian pesawat berjumlah besar tak menghasilkan kesepakatan imbal produksi (offset) apa pun. Impor senilai 3 miliar dollar AS per tahun untuk seluler talc membangldtkan banyak kemampuan apa pun di bidang teknologi ini kecuali maraknya bisnis kartu perdana, isi pulsa, dan kontraktor antena BTS.

Kini, 90 tahun setelah berdirinya pen didikan tinggi keinsinyuran di Tanah Air, sudah tiba saatnya para insinyur Indonesia meredefinisi peran dan profesinya agar tidak saja pas dengan perkembangan, tetapi—lebih dari itu—justru bisa menjadi pembawa ben dera dalam ikhtiar bangsa mentransformasi did menjadi bangsa inovatif.

Sekali lagi, seperti pernah disampaikan dalam Kongres PII, insinyur tidak saja to build, but also to sell. Dengan N-250, insinyur Indonesia berhasil membuktikan diri dalam kemampuan inovasi teknologi. Tapi karena inovasi juga berlingkup bisnis, masih di tunggu pula prestasi di bidang inovasi bisnis, yang kali ini dimotori oleh para insinyur.

Kembali Ke Atas Go down
Lihat profil user http://alumnifatek.forumotion.com
 
Mencetak Insinyur yang Wirausaha
Topik sebelumnya Topik selanjutnya Kembali Ke Atas 
Halaman 1 dari 1
 Similar topics
-
» Memilih Pembalut yang Baik
» Teman Masa Kecil yang Terlupakan
» Memperbaiki Hubungan Yang Rusak
» 5 Komponen Mesin yang Sering Bermasalah
» Yang selalu dirahasiakan oleh Perokok

Permissions in this forum:Anda tidak dapat menjawab topik
www. alumnifatek.forumotion.com :: Halaman Utama :: Tampilan Pada Portal-
Navigasi: